Selasa, 28 September 2010

Peta persaingan bisnis Ritel di Indonesia 2009

Meskipun perekonomian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis ekonomi global, namun bisnis ritel modern di Indonesia tidak terkendala bahkan masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.  Hal itu dikarenakan potensi pasar di Indonesia masih cukup besar dan menguatnya usaha kelas menengah dan kecil, telah menambah banyaknya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas yang memiliki gaya hidup belanja di ritel modern.
Perkembangan bisnis ritel modern ini dapat ditunjukan pula dari segi omzet yang  masih tumbuh secara nyata yakni dari sekitar Rp 42 triliun pada tahun 2005, meningkat menjadi sekitar Rp 58 triliun pada tahun 2007 dan tahun 2008 sudah mencapai sekitar Rp 67 triliun.  Peningkatan omzet belakangan ini, terutama didorong semakin maraknya pembukaam outlet gerai baru hypermarket dan minimarket. Misalnya, peritel asing hypermarket, Carrefour dalam waktu singkat telah berhasil mengepung potensi pasar ritel di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dengan kepemilikan gerai hingga akhir tahun 2008 sebanyak 70 unit.
Begitu juga konsolidasi Hero Supermarket yang mengarah ke hypermarket setelah supermarketnya belakangan cenderung menurun, cukup membuahkan hasil. Dari gerai pertama hypermarketnya yang bekerjasama dengan peritel asing dari Malaysia tahun 2002 lalu — Hypermarket Giant terus berkembang menjadi 17 gerai pada 2007 dan meningkat menjadi sekitar 23 gerai pada tahun 2008. Selanjutnya peritel lokal Matahari tak mau menjadi penonton saja, hanya dalam waktu setahun pada 2004 sudah membuka 4 gerai Hypermart, gerai hypermarketnya. Bahkan sampai akhir  2008 Hypermat sudah mencapai 39 gerai.
Besarnya minat peritel lokal mengikuti sukses  Carefour, dikarenakan omzet hypermarket bisa mencapai Rp 500 juta per hari, bahkan beberapa gerai Carrefour pada masa peak season-nya bisa meraih omzet hingga Rp 1 milyar per hari. Hal ini tentunya sangat potensial menggerus pasar supermarket yang polanya sama menjaring konsumen belanja bulanan. Begitu juga perkembangan hypermarket yang sangat pesat ini, karena formatnya cocok dengan karakter konsumen di Indonesia yang menjadikan belanja sebagai bagian dari rekreasi. Selain itu mampu menawarkan harga paling rendah, produk selalu fresh,  area belanja luas serta jumlah produknya yang sangat lengkap.
Namun, pesatnya perkembangan pasar modern belakangan ini seringkali menuai protes dengan pihak yang merasa dirugikan seperti pasar tradisional atau bahkan dengan sesama ritel modern.  Bahkan, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 Tentang  Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Pasar Modern  yang  baru saja diberlakukan pada Desember 2008 justru masih mengundang kontroversi. Terutama, menyangkut pelanggaran ritel modern yang menjual sembako di bawah harga pasar tradisional.
Bahkan pelanggaran zonasi dan jarak yang sudah berlangsung lama, telah memakan banyak korban dari pasar tradisional.  Tetapi pihak Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) pun telah mengajukan keberatan peritel modern atas isi Permendag Nomor 53 Tahun 2008, diantaranya menyangkut pembatasan biaya syarat perdagangan (trading term) dari aspek yuridis maupun komersialnya.
Selain mengulas kebijakan pemerintah yang masih perlu sosialisasi itu, juga berbagai aspek lainnya di bidang ritel kami bahas . Terutama dengan menyajikan peta persaingan bisnis ritel di Indonesia ini, akan sangat bermanfaat bagi kalangan bisnis khususnya yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan bisnis ritel modern seperti lembaga keuangan, perbankan, pemasok (supplier) dan sebagainya.  Studi ini juga sangat bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis ritel modern di Indonesia saat ini.
Tulisan diatas merupakan isi pendahuluan dari sebuah buku yaitu : “Peta Persaingan Bisnis Ritel Modern Di Indonesia” yang diterbitkan oleh mediadata.co.id dimana memiliki kontent aspek-aspek  yang menyangkut bisnis  retail juga faktor- yang mempengaruhinya baik internal maupun eksternal. gambaran daftar isi dari buku tersebut meliputi:
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan dan Cakupan Studi
1.3. Sumber Data dan Informasi
II. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUM EKONOMI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk
2.2. Perkembangan Ekonomi
2.3. Perkembangan Penanaman Modal
2.4. Perkembangan Inflasi
2.5. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Beberapa Mata Uang Asing
2.6. Perkembangan Suku Bunga Kredit atau    Pinjaman
III. PERKEMBANGAN BISNIS RITEL
3.1. Kondisi Pasar Tradisional
3.2. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007
3.3. Pusat Perbelanjaan Modern
3.4. Ritel Modern Bermula Dari Supermarket Dan Department Store
3.5. Omzet Ritel Terus Meningkat
3.6. Peranan Ritel Modern
3.7. Perintis Ritel Modern Indonesia
3.8. Perkembangan Ritel Modern
3.9. Peritel Modern Terapkan Multiformat
3.10. Jumlah Ritel Modern dan Penyebarannya
3.11. Peritel Menggunakan Pola Waralaba
3.12. Pemasok Ritel Modern
3.13. BM & PPnBM Produk Bermerek
3.14. Belanja iklan peritel
IV. HYPERMARKET
4.1. Tumbuh Pesat
4.2. Masih Terkonsentrasi Di Jawa
4.3. Pengembangan Menurut Lokasi
4.4. Strategi Pasar Hypermarket
4.3. Perkembangan Omzet Hypermarket
4.4. Hypermarket Ritel dan Perkulakan
4.5. Karakteristik
V. MINIMARKET
5.1. Tumbuh Marak
5.2. Indomaret Memiliki Gerai Terbanyak
5.3. Untuk Genjot Omzet Minimarket Butuh Banyak Gerai
5.4. Perkembangan Omzet
5.5. Karakteristik
VI. SUPERMARKET
6.1. Antara Hypermarket dan Minmarket
6.2. Lakukan Pembenahan
6.3. Gerai Supermarket  Masih Berkembang
6.4. Ekspansi pemain utama
6.5. Strategi pasar
6.6. Perkembangan Omzet Penjualan
6.7. Karakteristik
6.8. Persaingan
VII. DEPARTMENT STORE
7.1. Kondisi Saat Ini
7.2. Segmentasi dan Stratesi Pasar
7.3. Perkembangan Omzet
7.4. Matahari Menerapkan Konsep One Stop Shopping
7.5. Department Store
7.6. Karakteristik
7.7. Pola Persaingan Department Store
VIII. RUANG DAN LOKASI RITEL MODERN
8.1. Pemakaian Ruang Ritel Modern
8.2. Ritel Modern Menghuni Sebagian Kecil Pusat Perbelanjaan
8.3. Hubungan Pengelola Pusat Perbelanjaan dengan Ritel Modern
8.4. Pusat Perbelanjaan yang Beroperasi di Jakarta dan Sekitarnya
8.5. Kelompok Usaha di Bidang Pusat Perbelanjaan
8.6. Kapitalisasi Proyek Pusat Perbelanjaan
8.7. Harga Sewa Pusat-pusat Perbelanjaan di Jakarta
8.8. Pembangunan Pusat Perbelanjaan Kian Pesat
8.9. Perkembangan Pusat Perbelanjaan di Daerah
8.10. Square,Tren Baru Pusat Perbelanjaan
IX. LOKASI UTAMA RITEL MODERN DI JAKARTA
9.1. Segi Tiga Emas (The Golden Triangle Area)
9.2. Blok-M Area
9.3. Timur Utara (The North East Area)
9.4. Mangga Dua Area
9.5. Wilayah Barat (The West Area)
X. PROFIL PERUSAHAAN RITEL MODERN
10.1. PT MATAHARI PUTRA PRIMA TBK.
10.2. PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk.
10.3. PT HERO SUPERMARKET Tbk.
10.4. PT MITRA ADIPERKASA
10.5. PT METRO SUPERMARKET REALTY, TBK.
10.6. PT PASARAYA NUSAKARYA
10.7. PT MAKRO INDONESIA
10.8. PT CARREFOUR INDONESIA
10.9. PT INDOMARCO PRISMATAMA
10.10. PT AKUR PRATAMA
10.11. PT LION SUPERINDO
10.12. PT ALFA RETAILINDO TBK.
10.13. PT RIMO CATUR LESTARI
10.14. PT METROPOLITAN
10.14. RETAILMART
10.15. PT MUTIARA RITELINTI WIRA
10.16. PT GELAEL SUPERMARKET
XI. PROYEKSI MARKET SIZE/DEMAND SUPERMARKET, DEPARTMENT STORE, HYPERMARKET DAN MINIMARKET
11.1. Jumlah Penduduk, Pendapatan Regional dan     Pendapatan Per Kapita Jabotabek dan Sepuluh Kota Besar Lainnya
11.2. Pengeluaran Masyarakat Untuk Bahan Makanan dan Non Makanan
11.3. Pangsa Belanja Di Masing-masing Ritel Modern
11.4. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang Supermarket Di 15 Kota Besar
11.5. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang Department Store di 15 Kota Besar
11.6. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang Hypermarket di 12 Kota Besar
11.7. Proyeksi Penjualan dan Pasok Ruang Minimarket di 7 Kota Besar
XII. KESIMPULAN DAN TREN BISNIS RITEL MODERN
12.1.1.    Ritel Modern Masih Memerlukan Ruang Gerai, dan Pengaturan Zonasi
12.1.2.    Mengarah Kepada     Hypermarket dan Minimarket
12.1.3.    Lokasi Cenderung Memilih Pusat Keramaian
12.1.4.    Produk Melengkapi Pola “One Stop Shopping”
12.1.5.    Strategi Pemasaran ke Harga yang Murah
12.1.6.    Peraturan Pemerintah Mendukung Terciptanya Persaingan Yang Sehat
12.1.7.    Kendala Ritel Modern, Persaingan yang Semakin Ketat dan Daya beli yang Menurun

Tidak ada komentar: